Informasi dan Layanan

BERITA UTAMA

#Hai KoSaWa... Komunitas Sehat Sananwetan πŸ“Rabu, 15 Mei 2024 Kegiatan yang serentak dilaksanakan di posyandu Balita hari ini adalah pengukuran Lingkar Lengan Atas ( LILA ) untuk Deteksi Dini Wasting. Wasting (gizi kurang dan gizi buruk) merupakan masalah gizi serius dengan dampak-dampak yang tidak bisa disepelekan dan membutuhkan perhatian serta penanganan sesegera mungkin. Adapun pengertian dari Wasting adalah kondisi ketika berat badan anak menurun, sangat kurang, atau bahkan berada di bawah rentang normal. Anak yang mengalami kondisi ini umumnya memiliki proporsi tubuh yang kurang ideal. Pasalnya, kondisi ini membuat berat badan tidak sepadan (kurus) dengan tinggi badan untuk anak di usia tertentu. WHO selaku badan kesehatan dunia menyatakan bahwa wasting adalah salah satu masalah kesehatan utama dan berhubungan langsung dengan angka kejadian suatu penyakit (morbiditas). Deteksi dini wasting sangat penting untuk mengidentifikasi masalah gizi sejak dini. Penanganan wasting yang tepat waktu menjadi hal yang harus diperhatikan untuk mencegah dampak wasting yang lebih parah pada anak. Salah satu cara deteksi dini wasting pada anak adalah dengan melakukan pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) menggunakan pita LILA. Pengukuran LiLA adalah salah satu metode yang efektif untuk mendeteksi dini balita yang mengalami wasting. Pita LiLA digunakan untuk mengukur lingkar lengan atas anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Berdasarkan hasil pengukuran LiLA, ada tiga kondisi gizi balita: Hijau (β‰₯12,5 cm): Anak sehat dengan gizi baik. Kuning (11,5 cm – 12,4 cm): Anak mengalami gizi kurang. Merah (<11,5 cm): Anak mengalami gizi buruk. Tindakan setelah Deteksi Dini: Jika hasil pengukuran LiLA menunjukkan warna kuning atau merah, segera konsultasikan dengan fasilitas layanan kesehatan. Jika hasil pengukuran LiLA hijau, pastikan anak tetap mendapatkan asupan gizi yang seimbang dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan. Selalu ingat bawasanya keterlibatan aktif orang tua dan keluarga dalam deteksi dini wasting sangat penting untuk mencegah dampak buruk pada pertumbuhan dan kesehatan anak.
Pendampingan Tim Ahli dr. Vivi Ratnasari, Sp. A dan dr. Sita Ratri Andini, Sp. OG ke Puskesmas dalam Pelayanan KIA, Kegawatdaruratan dan Sistem Rujukan Maternal & Neonatal Pelaksanaan Program Skrining Bayi Baru Lahir Pada Penyakit Jantung Bawaan Kritis oleh dr. Vivi Ratnasari Sp. A KELAINAN JANTUNG BAWAAN INSIDENS (WHO 2018) ➒ Penyakit Jantung Bawaan (PJB): 1 dari 100 KH ➒ Penyakit Jantung Bawaan Kritis: 25% dari PJB MORTALITY (Balitbangkes, 2018) ➒ Periode Neonatus : 12,9% ➒ Periode Bayi 1 tahun : 13,6% SKRINING PJB   1. Skrining PJB Kritis dapat dilakukan diseluruh Puskesmas / FKTP dengan alat infant pulse oximetry 2. Seluruh RSUD Kabupaten/Kota mampu melakukan skrining lanjutan dengan alat ekokardiografi, serta membantu dalam peneggakkan diagnosis. Selanjutnya akan diselenggarakan pelatihan ekokardiografi oleh Tim Pengampu KIA dan UKK Kardiologi IDAI 3. Dukungan seluruh pihak diperlukan dalam pelaksanaan Program Skrining PJB Kritis   Perdarahan pada Kehamilan Lanjut oleh dr. Sita Ratri Andini, Sp. OG Prinsip pada penanganan perdaran pada kehamilan – Diagnosis segera – Kenali kemampuan untuk bertahan dan kompensasi – Siapkan tindakan resusitasi – Identifikasi faktor penyebab Penatalaksanaan perdarahan pada kehamilan – Nilai status kesehatan dan stabilitas ibu – Nilai kesejahteraan bayi – Lakukan resusitasi yang sesuai – Tentukan penyebab perdarahan – Jangan lakukan periksa dalam – Terapi expektatif bila memungkinkan – Terminasi atas dasar kondisi ibu dan/atau janin
 Hipertensi adalah istilah medis dari penyakit tekanan darah tinggi. Kondisi ini dapat mengakibatkan berbagai komplikasi kesehatan yang membahayakan nyawa sekaligus meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung, stroke, bahkan kematian.      Penulisan hasil tekanan darah berupa dua angka. Angka pertama atau sistolik mewakili tekanan dalam pembuluh darah ketika jantung berkontraksi atau berdetak. Sementara itu, angka kedua atau diastolik mewakili tekanan di dalam pembuluh darah ketika jantung beristirahat di antara detaknya.    Seseorang bisa dikatakan mengalami hipertensi bila pembacaan tekanan darah sistolik pada pengukuran selama dua hari berturut-turut menunjukkan hasil yang lebih besar dari 140 mmHg, dan/atau pembacaan tekanan darah diastolik menunjukkan hasil yang lebih besar dari 90 mmHg.  

Berita Terbaru

Polling

Bagaimana pendapat Anda tentang pelayanan Puskesmas?


Saran

Galeri Kegiatan

Instagram

VIDEO KEGIATAN

Lihat Lainnya